TopBottom

What's New ?



About Me

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
.
Browse: Home / Analysis Case 5

Analysis Case 5

Posted by Siput Grandonx at Sunday, 8 December 2013
Share this post:
Ma.gnolia DiggIt! Del.icio.us Yahoo Furl Technorati Reddit








=====

Florenville, 09 September 1989.

Rintik demi rintik hujan masih saja turun, sudah satu jam lamanya hujan itu belum reda.
Dari dalam rumah terdengar isakan-isakan yang menjadi-jadi yang ku tahu itu adalah suara dari Anne, bibi Selh dan nyonya Rea, rintihan-rintihan itu memang begitu membius di tengah rintik-rintik hujan yang tampak dari ambang jendela sana.

Sekarang aku sudah berdiri tepat di depan pintu depan, aku masih mendengar isak tangis mereka yang semakin menjadi-jadi.
Peti bertabur bunga itu sudah diangkatnya, dan kini aku bersama mereka beriring-iringan membawa peti itu menuju tempat yang begitu mengoyak, Ya! itu adalah tempat pengebumian.

Hujan tampaknya sudah sedikit reda, hanya menyisakan rintik-rintik kecil yang masih menghiasi tanaman belladonna yang elok dengan daun-daun yang terlihat sudah dipetik, rintik-rintik kecil itu juga masih menghujani tanah depan rumah yang masih berserakan kayu-kayu, ubin, sedikit daun Belladonna dan cukup banyak daun dari pohon fir.
Tanpa kusadari, aku sudah terlalu lama melamun di tengah rintik-rintik hujan ini.
Aku sepertinya sudah ketinggalan jejak mereka, namun aku masih dapat melihat siluet mobil yang mereka tumpangi di perempatan sana.

Kedua mataku sepertinya masih betah melamun dan kini aku masih saja melihat daun-daun belladonna yang terlihat sudah menua di bawah rintik-rintik hujan itu.
Beberapa saat kemudian aku terkikih-kikih sembari melangkahkan kakiku ke arah tenggara menuju dapur untuk sekedar mencuci perkakas yang telah digunakan oleh mereka sebelumnya.

Nona Schlir meninggal sehari yang lalu, kematianya masih diselimuti beberapa teka-teki janggal, diantaranya mengapa kematianya begitu cepat, padahal dia baru seminggu yang lalu sampai di rumah yang pernah ditempatinya ini. Ada juga hal aneh lainya seperti banyaknya benda-benda yang terlihat cukup berantakan di TKP kematian nona Schlir.
Nona Schlir adalah seorang pekerja dinas yang masih aktif sampai sekarang di Brussels, dia adalah orang yang cukup disegani karena memang dia memiliki nilai dedikasi tinggi namun aku juga pernah mendengar jika nona Schlir masih sering bermain curang dalam pekerjaanya dengan mengolok-olok rekan sejawatnya agar mereka tidak betah untuk bekerja di sana.
Aku tak tahu, apakah itu benar atau hanya khayalan belaka.
Tapi yang aku ingat  adalah dulu nona Schlir sering sekali mengolok-olok orang lain, sehingga dia sering dijauhi oleh beberapa temanya.

Aku di sini berprofesi sebagai pembantu nyonya Rea, di rumah yang cukup besar ini hanya ditempati oleh beberapa orang saja, ada nyonya Rea yang sangat gemar pulang malam karena bisnis perhiasan emasnya sedang menjadi incaran para investor, dia memang sangat jarang pulang ke rumah entah jika ada urusan penting atau tidak, tampaknya dia sangat menikmati pekerjaanya di usia yang tidak lagi muda.
Ada juga nyonya Annabell, dia adalah adik dari nyonya Rea yang gemar sekali marah-marah, sudah bertahun-tahun aku bekerja di sini namun sepertinya karakter yang temperamental itu belum mengalami penurunan, malah sebaliknya dia justru semakin brutal saja jika sedang emosi.
Selain mereka berdua ada aku dan Treeon, Treeon adalah security rumah ini, dengan perawakan badan yang besar, jelas dia memang sangat cocok untuk menjaga rumah sebesar ini.
Namun, yang kusayangkan adalah dia terkadang jarang bertugas untuk menjaga rumah ini. Alasanya  simpel yaitu sedang tak enak badan, contohnya saja pas pada malam kemarin, dia absen untuk datang berjaga dan pada akhirnya dia kena getahnya juga yaitu dimarah-marahin oleh nyonya Rea.

Nona Schlir sendiri adalah satu-satunya orang yang beretnis Flandria di rumah ini, karena memang rumah ini terletak lebih dekat dengan luxemburg atau perancis jadi tak heran jika banyak diantaranya yang beretnis walloon.
2 hari yang lalu di siang hari cerah, nona Schlir terlihat murung berbeda seperti biasanya. Setelah mengurung diri di rumah karena bosan, Siang itu dia izin kepadaku untuk pergi kerumah Leiipald dengan membawakan 2 bunga matahari sebagai tanda kedatanganya, aku sempat melarangnya pergi karena pada saat itu di kota Florenville sedang ada demonstrasi oleh para oknum-oknum, lagipula sore ini nyonya Rea berencana untuk pulang ke rumah untuk sekedar berkumpul bersama keluarga kecilnya. Tapi sepertinya dia masih bersikap kukuh dan melanjutkan untuk pergi ke rumah Leiipald di tengah terik matahari yang begitu menyengat.
Tak berselang lama, akhirnya nona Schlir kembali ke rumah dengan muka palak-nya, dan langsung pergi ke lantai 2. Namun ditengah-tengah langkahnya, dia menerima panggilan yang terdengar mirip dengan suara nyonya Annabel. Aku mendengar ada percekcokan disana , aku tak heran jika sering mendapati mereka bercekcok karena sifat mereka berdua yang tak ingin saling mengalah satu sama lain dan sifat keras kepala mereka yang cenderung besar-lah yang memunculkan percekcokan itu.

Pada hari itu juga, nyonya Annabel dan nyonya Rea pulang ke rumah, namun tak berselang lama nyonya Rea memutuskan untuk berangkat lagi entah karena ada kesibukan atau ada hal sepele lainya, aku tak tahu pastinya.
yang ku tahu adalah nyonya Annabel terlihat memarahi nona Schlir beberapa saat kemudian.
Selanjutnya , pada sore hari teman kecilku dan nona Schlir datang menemui kita untuk sekedar berbincang-bincang seputar asmara dan pekerjaan kita yang sekarang, dia adalah Leiipald dan Vunberg.
Mereka adalah 2 wanita elok yang sudah sangat akrab bersahabat satu sama lain sampai sekarang,
Leiipald adalah seorang Botanikus yang sudah beberapa tahun ini kembali aktif untuk melakukan observasi-observasi ke obyek-obyek sekitar, sedangkan Vunberg adalah wanita yang amat dikagumi oleh para pria-pria sebab dia adalah MC cantik dan terkenal di kota Florenville ini.


Tepat pada pukul 8 malam, kita mulai bercakap-cakap dengan tema yang masih sangat awam, yaitu seputar pekerjaan.
Alhasil, akupun hanya pura-pura mendengarkan mereka karena kau sudah tahu sendiri bukan? Aku hanyalah seorang pembantu. Sedangkan mereka? Ah... sudahlah.
Seperti biasa, nona Schlir sering berucap dengan ucapan-ucapan satire-nya kepada setiap orang yang dirasa tidak memiliki kesamaan dengan dirinya, termasuk kepada kita semalam.

Selanjutnya aku yang sudah merasa jenuh izin pamit kebelakang untuk membuatkan minuman & hidangan kepada mereka. Aku melakukanya dengan cukup lama karena memang ini kulakukan agar aku tak terkena ucapan-ucapan satire darinya. Ditambah lagi aku yang pada saat itu sedang sakit perut jadi aku tinggalkan sebentar hidangan itu di meja dapur.
Tanpa ku sadari Leiipald sudah berada di seberang tembok sebelahku, tampaknya dia sedang memegang dedaunan yang masih segar, sudah pasti dia sedang mengobservasi obyek-obyeknya, batinku.  aku berjalan melaluinya dan segera aku menemui nona Schlir
yang terlihat sedang duduk sendirian sembari menonton TV.
Vunberg sendiri sepertinya sedang menikmati dingin-nya udara malam di kota Florenville ini, terlihat dari indikasi-nya berdiri di depan rumah sambil merenggangkan kedua tanganya lebar-lebar.

“Whoaaaaaaaaaaaaaaa!”
Suara yang sudah kukenal itu tampaknya meraung keras dan aku sudah mengetahui jika itu adalah suara dari nyonya Annabel yang seolah memberikan direksi kepadaku untuk segera melayani dia.
Dengan gesit, aku menaikki anak tangga ini menuju ke kamar-nya di lantai 3.
Nyonya Annabel menyuruhku untuk mengambilkan makanan yang kemarin dia beli di lemari dekat ruang keluarga.
Tanpa basa-basi, aku mulai menuruni anak tangga dengan cepat.

Di ruang tamu sendiri, tampaknya Leiipald dan Vunberg masih asyik berbincang dengan nona Schlir, kemudian aku langsung menuju ruang keluarga, namun sepertinya Leiipald dan Vunberg mencegatku dengan ucapanya yang ingin segera pulang karena katanya ada acara penting malam ini.
Akupun berjabat tangan dengan mereka sebelum mereka benar-benar keluar dari rumah ini.
Sebagai perpisahanya, mereka mengucapkan bahwa akan kembali ke rumah ini besok untuk berbincang-bincang lebih lanjut.

Sepeninggal kepergian mereka, aku segera pergi menuju ruang keluarga untuk mengambilkan makanan yang telah dibeli oleh nyonya Annabel, namun sepertinya  aku sedikit kebingungan karena aku tidak mengetahui letak dimana makanan itu disimpan.
Aku mulai mencari ke setiap sudut ruang keluarga, mulai dari meja, sofa, lemari 1, lemari 2, lemari 3, dan yang lainya..
Setelah mencari-cari ke setiap sudut, akhirnya aku menemukan makanan yang dimaksud oleh nyonya Annabel yang ternyata tersimpan di balik tudung saji dekat ruang makan.
tanpa pikir panjang, aku mulai melangkahkan kakiku menuju lantai 3, tempat dimana nyonya annabel sedari tadi berbaring dengan santainya.
Belum genap langkahku menuju tangga atas, nyonya annabel menghentikan langkahku karena dia ternyata sudah ada di lantai bawah bersama nona Schlir. Aku tak tahu apa yang telah mereka bicarakan dan lakukan sedari tadi, yang pasti adalah nyonya Annabel tampak sedang merias dirinya dengan talek dan aksesoris lainya.  Dan setelah dia membuka mulutnya, ternyata dia akan menghadiri acara pernikahan teman-nya di Inggris malam ini juga, jadi tak ayal dia berdandan sedemikian menor-nya.

Setelah kondisi rumah ini sepi dan hanya meninggalkan aku dan nona Schlir di ruangan ini, aku memutuskan untuk mencoba untuk berbicara denganya, namun tampaknya dia sedang dalam kondisi mood yang buruk, dia hanya terdiam membisu dan pucat pasi. Aku yang mencoba untuk mengakali suasana hati-nya yang sedang buruk pergi ke belakang dan mengambilkan beberapa potong tiramisu untuknya yang kuketahui jika dia sedang dalam suasana hati yang buruk, biasanya dia akan kembali ke keadaan semula dengan memakan tiramisu kesukaanya itu.
Dan karena aku sudah terlanjur mengantuk, aku langsung pergi ke kamarku di ujung lantai satu dan meninggalkan nona Schlir duduk sendirian menikmati potongan-potongan tiramisu kesukaanya sembari menonton acara TV.

Kicauan burung gereja telah membangunkanku dari tidurku yang sangat nyenyak semalam tadi, ini jelas bukan hari yang terdengar menggembirakan, bagaimana mungkin disebut menggembirakan jika aku masih saja meneteskan air mataku sembari membereskan gelas-gelas, piring-piring dan tiramisu yang masih utuh semalam?
“Wuuuush!”, suara angin kencang yang diiringi rintik-rintik hujan mulai menampakkan dirinya.
Di tengah rintik-rintik hujan, segerombolan mobil mewah hitam berhenti  di rumah depan ini, aku yang sudah mengetahui jika itu adalah kawanan mobil milik nyonya Rea, nyonya Annabel, Anne dan bibi Selh hanya terdiam dan mencoba membukakan pintu depan . dari kaca jendela, mereka terlihat begitu terburu-buru untuk memasuki rumah ini dan aku pun hanya bisa berharap agar semuanya akan baik-baik saja.
Tetapi seperti yang sudah saya duga sebelumnya, mereka pasti akan melakukanya ini padaku. Bahkan nyonya Rea yang terlihat baik itupun mendorongku hingga jatuh terbentur ke lantai, belum lagi ucapan-ucapan kasar dari nyonya Annabel dan bibi Selh yang membuatku semakin deras meneteskan air mataku sederas air hujan yang turun dari langit di pagi ini.

=====





Jadi detektif, analisislah kasus tersebut mulai dari siapa pelakunya, motif pelakunya hingga kronologi kejadianya!







Ingin mencoba lebih dalam lagi? coba deh kunjungi CCDI, ada banyak keseruanya lho! :)









Spektakuler Kan ? [[ Adhi Setia Putra Asp ]]

0 comments:

Ayo Jangan sungkan-Sungkan Berkomentar Dikotak Bawah Ini Tapi Yang Sopan Ya No Sara-No Spam-No Anarch.Salam Spektakuler Semuanya!!!